Di Balik Tokoh Hobi Gibah: Sebuah Pengalaman

Ditulis oleh Catarina Amabella

merasani /me.ra.sa.ni/

(v.) membicarakan kejelekan atau kekurangan seseorang

gibah /gi.bah/

(v.) membicarakan keburukan (keaiban) orang lain

Kata-kata tersebut tentu akrab di telinga kita sebagai orang Indonesia, terutama Surabaya. Merasani dan gibah erat kaitannya dengan peran yang saya mainkan di dalam drama Kesaging, di mana saya menjadi tetangga yang suka membicarakan dan beprasangka buruk terhadap anak orang lain.

Tantangan & Keuntungan

Memang, acting saya tentu tidak bisa sehebat tokoh Bu Tejo dalam film pendek Tilik (2018) yang sempat viral di YouTube. Tetapi, memerankan tokoh yang seperti ini cukup menantang bagi saya yang pada dasarnya kurang suka bermain drama. Lebih-lebih lagi, adegan merasani dan gibah di sini mesti dilakukan dengan menggunakan bahasa Inggris. Sukar bagi saya untuk mengucapkan script dengan intonasi yang benar sekaligus pronunciation yang juga harus jelas.

Namun, saya merasa lumayan beruntung karena keadaan rumah saya yang cukup kondusif untuk syuting, sehingga saya tidak perlu mencari waktu-waktu khusus seperti kebanyakan teman-teman sekelompok saya, seperti yang telah diceritakan oleh Bryan Noel pada artikel ini. Dalam proses syuting, saya selalu ditemani ibu saya. Keberadaan beliau sangat mempermudah saya, mengingat beliau ketika sekolah dulu sering dipilih oleh gurunya untuk bermain drama.

Sebenarnya, ada beberapa keuntungan yang saya rasakan dari mendapatkan peran ini. Yang pertama, saya hanya perlu melakukan tiga adegan, tidak lebih. Yang kedua, peran saya tidak memerlukan gestur-gestur khusus. Artinya, saya hanya perlu mengucapkan apa yang ada di script sambil melakukan kegiatan yang biasa dilakukan oleh ibu-ibu pada umumnya (mengurusi dan menyiram tanaman, menyiapkan makan). Dan yang terakhir, kostum dan latar tempat yang saya butuhkan pun tidak muluk-muluk.

Saya masih ingat ketika merekam salah satu adegan di mana saya harus ber-acting di jalan depan rumah saya. Sekadar info, di sekitar rumah saya banyak anak kecil yang sering bermain bersama pada sore hari. Saat itu pun sama. Karena tidak ingin dipandang aneh karena cas cis cus bahasa Inggris sendirian, saya pun memutuskan untuk menunggu sekitar 30 menit sampai mereka bubar. Pada adegan tersebut, saya sebenarnya beradu peran dengan dua tokoh. Namun apa daya, pandemi ini membuat kami tidak bisa bertemu. Hasilnya, saya seperti ber-acting ‘buta’, karena saya tidak tahu saya harus melihat ke arah mana persisnya.

Akhir Kata

Saya berharap drama kami ini nanti bisa semakin menyadarkan kita semua, terutama yang sering menjadi pelaku dua hal yang saya sudah sebutkan di awal artikel ini. Sekian.

Berikut beberapa dokumentasi dari proses syuting saya 😀

6 Replies to “Di Balik Tokoh Hobi Gibah: Sebuah Pengalaman”

  1. Nathanael Adrien says:

    Ditunggu kisah berikutnya yaa… “Julid ke Tetangga Berujung Jadi Gila.”
    Saya rasa, artikel ini cukup memberikan inspirasi bagi saya
    untuk menulis di artikel sebelah. Semoga kesulitan kita menjadi pengalaman saat sudah lulus ya haha

    Reply
  2. Stevanus Adrien Sanjaya says:

    Ghibah tidak memperbaiki diri kita & orang yang digunjingkan.
    Sebaiknya kita melihat seseorang dari sisi positifnya dan kinerjanya, bila yang kita ghibahkan lebih baik prestasinya daripada kita, maka kita terpacu untuk lebih baik lagi dari dia.
    Caranya harus bekerja keras meng upgrade performance kita sehingga ganti kita di ghibahkan karena kehebatan kita dalam arti positif.

    “Pada awalnya masalah akan mendatangkan kesulitan, tapi pada akhirnya masalah akan mendatangkan pembelajaran.”

    Reply
  3. Stevanus Adrien Sanjaya says:

    Ghibah tidak bisa merubah karakter seseorang. Sebaiknya stop ghibah.
    Focus improve yourself.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *