Editing: Sebuah Essential Skill di Kala Terpepet

Ditulis oleh Catarina Amabella

Sebagai seorang Sinluiers, Anda dan saya pasti tahu betapa banyaknya tugas yang dikerjakan secara berkelompok. Namun, ketika mengetahui bahwa serangkaian Uprak ini akan dikerjakan dalam kelompok yang sama terus, ada kalanya saya bertanya-tanya, “Duh, Sebenarnya to-do list Uprak ini ada apa saja, sih? Rasanya kok tidak selesai-selesai. Banyak sekali perintilan-nya.” Saya sampai berpikir begitu karena saya merasa setiap kali kami menyelesaikan sesuatu, misalnya proses merekam, pasti ada saja task yang menyusul setelahnya, yaitu editing.

“Yakin sudah selesai?”

Ceritanya, ketika itu proses editing drama kami telah mencapai 50%. Kami yang tidak terlibat langsung dalam proses editing pun istilahnya sudah agak lega, dan sudah lumayan ‘berleha-leha‘ (maaf ya teman-teman editor, saya mau mengaku dosa). Lalu, tiba-tiba, rekan saya, Bryan Noel, menghubungi saya melalui Line“Bel, jingle-nya kita gimana ya?”. Langsung seketika saya ingat, “Oh iya, yang bertugas memikirkan jingle di kelompok ini kan saya.” Langsung-lah saya bergerak cepat.

Saya menghubungi Nathan dan Nicole. Untungnya, lagu yang kami pilih cukup familier, sehingga kami tidak butuh waktu lama untuk latihan. Sore sampai malam itu juga pun kami bertiga berhasil menyelesaikan proses perekaman suara, perekaman video, sekaligus editing.

Stop Ngeluh, Kerjakan Aja!

Nah, ini menariknya. Saya ditantang untuk menyelesaikan editing penggabungan audio dan video dengan konsep mini virtual choir dalam waktu yang mepet. Padahal, skill editing saya sebenarnya tidak semumpuni itu. Mulailah saya membuka software GarageBand di laptop saya. Saya yang biasanya hanya meng-edit suara saya sendiri, kini harus meng-edit suara tiga orang. Dan coba tebak, karena kami merekamnya sendiri-sendiri, pastilah tempo dan ketukan sangat tidak mungkin sama persis. “Aduh, kalo kaya gini sih mesti dipotong per kata.” Benar saja, memang itu yang akhirnya saya lakukan.

Setelah audio beres, saya membuka iMovie untuk mengedit videonya. Menyunting video memang relatif lebih mudah ketimbang audio. Namun, saya menemui tantangan baru. Saya harus bisa menyamakan atau mengepaskan audio dengan gerakan bibir saya, Nathan, dan Nicole di dalam video. Tepat pukul 11 malam, saya berhasil menyelesaikan seluruh proses pembuatan jingle, yang kemudian langsung saya serahkan ke Bryan Noel selaku editor utama drama Kesaging.

Yah, setidaknya, pengalaman semacam ini sungguh mengasah dan menguji skill editing saya. Apabila Anda penasaran dengan hasilnya, Anda bisa play video di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *