Hati-Hati: Sering “Julid” ke Tetangga Bisa Jadi Gila!

Ditulis oleh Catarina Amabella

Senang sekali karya kami dalam rangka Ujian Praktik Kesaging (Kesenian, Agama, Inggris) telah berhasil diunggah kemarin (9/2). Jadi, bagaimana? Apakah Anda yang sedang membaca artikel ini telah usai menontonnya? Jika belum, tonton dahulu dengan klik di sini, agar Anda lebih ‘ngeh’ dengan apa yang saya tulis pada artikel ini.

Nah, apabila Anda sudah menonton, Anda tentu ingat bahwa di penghujung cerita, si tetangga mengalami gangguan jiwa. Hal itu dikarenakan ia tidak dapat menerima kenyataan bahwa perbuatannya telah merenggut nyawa seseorang. Ia bahkan masih terbayang-bayang oleh sosok yang ia ‘bunuh’, dan hal itu membuatnya tidak tenang.

Oh iya, sebelum lanjut, saya mau berterima kasih dulu kepada rekan saya, Nathanael Adrien, yang telah memberi ide judul untuk tulisan ini lewat komentar di artikel saya sebelumnya. 

Pada artikel saya sebelumnya, saya menggunakan istilah merasani dan gibah. Namun, akhir-akhir ini muncul istilah “julid” yang telah ramai dipakai di medsos, yang kurang lebih memiliki arti yang sama. Sebagai seseorang yang cukup literated dengan kosakata bahasa Indonesia, saya pun penasaran dengan asal usul kata ini. Ternyata, dugaan saya benar. Saya gagal menemukan arti kata ini di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Rupanya, kata “julid” ini berasal dari bahasa Sunda yaitu “binjulid” yang berarti iri hati atau dengki.

Dampak “Julid” Bagi Pelaku

Sudah bukan rahasia lagi kalau perbuatan “julid” ini bisa sangat menyakiti korbannya. Tetapi, tahukah Anda bahwa “julid” ini juga dapat berdampak buruk bagi pelakunya? Dilansir dari goodtherapy.org, orang yang sering menyebar kejelekan orang lain menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang tidak dapat dipercaya, dan sangat mungkin bagi mereka untuk justru menjadi sasaran rumor berikutnya. Andai saja kami membuat lanjutan untuk drama A Silent Elegy, saya yakin akan ada adegan di mana tetangga-tetangga yang lain bergunjing, “Ibu itu gimana ya kabarnya di rumah sakit jiwa?”. 

Perilaku “julid” ini juga sering kali menyiratkan bahwa orang tersebut sebenarnya merasa insecure dengan dirinya sendiri. Ia iri dengan pencapaian-pencapaian orang lain, karena merasa dirinya tidak mampu untuk mencapai hal serupa. Misalnya pada adegan awal drama kami, yaitu ketika seorang tokoh mengungkapkan kecurigaannya kepada tetangga yang bisa membeli mobil baru di tengah krisis pandemi. 

Mungkin banyak orang menganggap kata gila yang digunakan pada judul cukup clickbait. Namun, apabila kita mengartikan gila ini sebagai sakit jiwa atau sakit mental, maka benar bahwa menjadi gila dapat merupakan efek puncak dari sering ber-julid ria. Dilansir dari sehatq.com, orang yang sering julid lebih rentan mengalami kelelahan, kecemasan, dan depresi. Bukannya mengurusi dan memikirkan diri sendiri, fokus dan emosi seseorang justru terkuras akibat sibuk mengurusi dan memikirkan apa-apa yang dilakukan orang lain. Seperti yang terlihat pada salah satu adegan drama kami, seorang tokoh justru memanfaatkan waktu senggangnya untuk menonton video Tiktok orang lain, kemudian menghujat si pembuat video tersebut. Ia justru merasa kesal karena merasa bahwa si pembuat video tersebut berniat pamer. Bahkan, penyesalan setelah julid pun juga dapat memicu depresi, seperti adegan dalam drama kami yang sudah saya bahas di awal tulisan ini.

Akhir Kata

Semoga kita semua dapat menjadi manusia-manusia yang anti-“julid” demi kewarasan kita ke depannya.

4 Replies to “Hati-Hati: Sering “Julid” ke Tetangga Bisa Jadi Gila!”

  1. Nathanael Adrien says:

    Maka dari itu, karena kita tidak pernah bisa mengetahui kondisi mental seorang dengan pasti, alangkah baiknya main aman dengan tidak julid kepada sesama. Kalau mau julid ya silakan itu hak kita, tapi jangan sampai kedengaran tetangga, apalagi orang yang kita julidin, hehe

    Reply
  2. Caroline Paska says:

    Sudah bukan hal yang tabu jika manusia selalu mengomentari perilaku hidup orang lain. Oleh sebab itu, kita harus menjadi pribadi yang rendah hati dan takut akan Tuhan agar menghargai ciptaan-Nya. Dengan itu kita bisa menjaga mulat kita agar tak menyakiti orang lain. Terima kasih Bella, artikelnya sangat menarik!

    Reply
  3. Stevanus Adrien Sanjaya says:

    Pakailah perkataan yang membangun.
    Bukan perkataan yang menghancurkan, pembunuhan karakter dsb.
    Daripada Julid, sebaiknya berdoa dan berusaha.
    Julid berangkat dari iri hati, dengki.
    Musuh julid adalah EGP, masa bodoh.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *