Kudapati Mode Nokturnalku Tak Sesempurna Dugaanku

Oleh Nathanael Adrien Yohanta

nokturnal/nok·tur·nal/ a 1 berhubungan dengan malam hari: perjalanan –; 2 beraktivitas hidup pada malam hari;

Pernah gak sih, kamu menunda suatu pekerjaan hingga larut malam? Mengerjakan tugas hingga larut malam terkadang terasa menyenangkan. Kita jadi sadar akan skill baru kita, yaitu menjadi manusia nokturnal. Tetapi, tidak semua orang bisa memaksimalkan mode nokturnalnya. Terlalu banyak variabel yang perlu dipertimbangkan ketika memasuki mode nokturnal sempurna.

Manusia pada dasarnya bukan makhluk nokturnal. Kita didesain untuk melakukan aktivitas di kala terang dan beristirahat di kala petang. Menjadi manusia nokturnal itu adalah sebuah pilihan, meskipun terkadang kita menjumpai beberapa kelainan bawaan pada sebagian orang. Ya, menjadi nokturnal itu adalah pilihan, sebagian besar orang memilih untuk melakukan aktivitasnya di malam hari, apapun alasannya.

Aku sendiri juga sering melakukannya, entah itu karena hobiku yang suka menunda, atau memang hanya malam hari waktu yang pas untuk bekerja. Saat aku menulis artikel ini pun, aku sedang memasuki “mode nokturnal”. Hal itu berlaku ketika aku melakukan proses rekaman untuk keperluan Uprak. Di dalam artikel kali ini, aku akan membagikan pengalamanku ketika tidak berhasil mempertahankan mode nokturnal kala merekam proses senam (Uprak OR). Enjoy!

Penundaan Berujung Penderitaan

Waktu itu, hari Minggu, 7 Februari 2021, the most stressful day, karena besoknya hari Senin. Untungnya, waktu itu hari Senin diliburkan, karena sekolah masih “punya hati” kepada kami. Sejak pagi hari, aku berusaha menghapalkan senam kelompok untuk Uprak, tapi tak kunjung hapal. Ya gak kaget sih, aku sendiri ngapalinnya setengah-setengah, lihat semenit ganti YouTube, lihat semenit ganti Instagram. Akhirnya, aku hanya menonton gerakannya saja, tetapi tidak mempraktikannya.

Aku sadar akan kemampuanku yang cukup buruk dalam bidang kinestetik, karena kesadaran diri tersebut aku akhirnya enggan mencoba. Toh rekamannya nanti malam, karena siang hari situasi rumah kurang kondusif, susah rekaman. Malam pun tiba, kutengok anjing tetangga sudah terlelap dalam tidurnya. Entah apa yang sedang dimimpikannya.

Senam di tengah Malam

Malam yang indah, pikirku saat itu. Dengan segala jerih payah, kubangkitkan mode malamku, bersiap merekam bagianku. Saat sudah siap, baru saat itu juga aku mempraktikkan gerakan senam yang sedari pagi kutonton. Kutengok jam dindingku, hahaha masih pukul 10, sama sekali tak menggugah kekhawatiranku. Waktu berlalu dengan cepat, bagai sesosok pelari maraton yang tak pernah mencapai garis finish. Aku yang sedang latihan pun merasa tak kunjung bisa menghapal gerakannya. Bodoh? Mungkin. Payah? Kuakui itu.

Setelah kuhabiskan waktuku, aku mencoba melakukan latihan sambil rekaman, karena memang agak diburu waktu. Penundaanku berakhir di kala itu. Seandainya aku masih menunda lagi, mungkin aku akan memotong jam tidurku lebih banyak. Jika aku seorang editor, aku mungkin sudah terkapar mengenaskan di atas ranjang yang penuh kehangatan. Rekaman demi rekaman terus kulakukan. Semakin aku sering berbuat kesalahan, semakin aku merasa kewalahan.

Kupejamkan Mataku di dalam Rekamanku

Rekaman terakhir pun dimulai, saat itu lagunya berjudul Que Calor. Jarum pendek sudah menunjukkan angka 2, ketika kucek jarum panjangnya, sepertinya sudah setengah putaran. Mataku mulai tidak menurut, keinginan untuk segera tidur tak terelakkan. Aku gagal mempertahankan mode nokturnalku! Senam kulakukan dengan sisa kesadaran yang ada, dan akhirnya hasil yang kudapat hanyalah tubuhku yang bergerak sembari memejamkan mata. Haruskah kuulang? Sayang, hasilnya sama saja.

Akhirnya, setelah bergumul dengan rasa kantuk, rekaman pun selesai. Aku segera membereskan semua peralatanku, bersiap menyambut empuknya ranjangku. Kuserahkan seluruh kesadaranku, kubenamkan wajahku di atas bantal dan menyambut mimpiku. Paginya kuterbangun dari kasurku dan mendapati seorang teman sedang menungguku (karena ada zoom mendadak).

Sebuah Pesan

Menjadi manusia nokturnal itu pilihan, kecuali kalau kamu memang punya kelainan. Banyak alasan yang mendasari seseorang untuk beraktivitas dan bekerja di malam hari. Beberapa orang memilih malam hari sebagai waktu yang paling baik untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Bagaimana dengan sisanya? Mungkin mereka sama seperti aku, suka menunda. Tapi mau bagaimana lagi? Kalau itu memang pilihanku, harusnya aku sadar akan risikonya. Hal serupa berlaku untukmu. Jika mode nokturnal tidak selalu efektif untuk kebanyakan orang, bukan berarti mereka lemah. Mereka hanya mengikuti naluri alaminya untuk beristirahat di malam hari.

Oh ya ngomong-ngomong, aku sebenarnya sudah membuat beberapa rekamanku yang gagal ketika proses pengerjaan Uprak. Saksikanlah proses kegagalanku dalam video di bawah ini, termasuk kegagalanku dalam mengedit videonya hahaha… Nantikan artikelku berikutnya, aku mau tidur dulu sekarang, sudah jam setengah 3 pagi. Sampai jumpa~~

 

5 Replies to “Kudapati Mode Nokturnalku Tak Sesempurna Dugaanku”

  1. Priscillia says:

    Sama nih, klo mau kerja di malam hari, siangnya harus dijadikan waktu istirahat. Tapi akibatnya waktumu jadi ga sinkron sama orang lain.

    Reply
  2. Stevanus Adrien Sanjaya says:

    Makhluk nokturnal atau drakula???
    Malam melek, waktu matahari bersinar tunda, tunda pekerjaan???
    Tunggu momentum???
    Kerja keras malam hari, tengah malam, dini hari boleh saja tapi ingat siklus kerja organ tubuh ada jam renewal-nya (jantung, paru-paru, ginjal, usus) .

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *