Peran Antagonis: Hidup di dalam Drama

Oleh Nathanael Adrien Yohanta

Semua ujian adalah masalah dan masalah itu selalu membawa masalah lainnya. Itulah tulisan saya dalam artikel sebelumnya yang berjudul “Makna di Balik Suatu Masalah“. Dalam proses pengerjaannya pun, Uprak selalu mampu menghadirkan masalah indah bagi kita. Manusia memang tidak luput dari yang namanya masalah, tapi pernahkah kamu menjadi sosok yang berada di balik masalah tersebut? Saya yakin pasti pernah, karena saya juga pernah, dan justru dalam Uprak kali ini pun, saya berperan sebagai pembawa masalah.

Menjadi sosok antagonis memanglah gampang-gampang susah. Gampang ketika watak yang dimainkan cukup sesuai dengan watak asli kita, dan susah ketika kita harus menjadi tokoh dengan watak yang bertolak belakang dari watak asli. Itulah yang saya rasakan ketika berperan sebagai tokoh antagonis dalam Ujian Praktik Kesaging (Kesenian, Agama, Inggris) kali ini. Cukup mudah untuk menirukan ekspresi mengesalkan dari tokoh tersebut karena wajah saya yang memang sudah terlihat mengesalkan dari sananya (becanda… tapi fakta). Yang sulit adalah ketika harus menciptakan intonasi atau nada jahat karena ujung-ujungnya terdengar biasa saja.

Sebuah Kisah

Kala itu, saya sedang melakukan rekaman dengan adegan yang menurut saya cukup sulit. Pada adegan tersebut, saya diharuskan untuk menciptakan suasana marah dan jengkel ketika “melabrak” tokoh lain. Ada sekitar 8 kali rekaman hanya untuk adegan berdurasi 30 detik saja. Rekaman pertama gagal karena kondisi yang tidak kondusif, saat itu ada beberapa orang sedang mengobrol (biasa, namanya saja tetangga). Rekaman kedua gagal karena intonasi saya kurang naik dan terkesan datar. Puncaknya, kegagalan yang menurut saya paling memalukan adalah ketika saya sedang asik berteriak dan menghujat (adegan drama tentunya), tiba-tiba saja orang rumah keluar dan bertanya, “Ngapain teriak-teriak?”

Saya yang sebelumnya sudah menjelaskan akan rekaman di luar pun terpaksa mengulang adegan tersebut, padahal menurut saya, hanya rekaman itu yang paling bagus. Setelah mengulang kesekian kalinya, barulah saya berpikir, “Haduh, kalau begini terus, mending dubbing saja.” Dan itulah yang saya lakukan. Suatu hari saya pernah merekam adegan tersebut ketika kondisi lebih kondusif, tetapi tiba-tiba ada sepeda motor lewat di depan rumah. Ingin rasanya saya keluar dan mengambil palang yang bertuliskan “Sedang Ada Kegiatan Warga” agar bisa rekaman dengan tenang.

Sesekali Hidup di dalam Drama

Sebenarnya, menghayati peran di dalam drama itu sangat menantang. Biasanya, saya hanya bisa berimajinasi seolah-olah saya hidup menjadi orang lain. Acting bukanlah kemampuan alami saya, tetapi dalam peran kali ini, saya bisa menjadi sosok yang cukup berbeda dari diri saya sebenarnya. Peran tersebut membuat saya bisa merasakan perspektif yang berbeda, yaitu menjadi seorang pembawa masalah tanpa perlu khawatir dengan efeknya karena memang hanya drama. Yah, meskipun ujung-ujungnya saya harus diketawain keluarga dan tetangga.

Cukup mengesankan berperan sebagai sosok “bapak julid” yang sukses membuat tetangganya tersiksa. Dari peran antagonis inilah saya belajar bahwa menjadi orang jahat tidaklah mudah, tapi rasanya seru juga. Kapan lagi saya bisa mengekspresikan kegregetan dari hati saya ke dalam sebuah drama. Memang cukup susah, tapi ya sudahlah, biarlah hal ini menjadi sebuah kenangan indah di tahun terakhir SMA.

 

11 Replies to “Peran Antagonis: Hidup di dalam Drama”

  1. Catarina Amabella says:

    Terima kasih karena telah membuat saya cukup terhibur saat membaca artikel ini. Sebagai sesama pemeran antagonis, saya cukup relate dengan apa yang Anda tulis. Saya juga merasakan betapa sulitnya mengucapkan naskah dengan intonasi yang pas. Semoga karya ini nantinya selain menjadi kenangan, juga bisa berguna bagi banyak orang.

    Reply
  2. Stefhanie Budianto says:

    Mantab kokonat, penjiwaan karakter sangat bagus, keren cocok jadi artis 🙂

    Reply
  3. Nicole Celia says:

    Terima kasih untuk dedikasinya dalam drama ini, sangat mengesankan. Aku percaya kamu belajar banyak setelah berperan menjadi “bapak julid”. Semoga sukses kedepannya!

    Reply
  4. Caroline Paska says:

    Terima kasih karena artikel mu membuktikan bahwa menjadi orang lain dengan sifat/watak berbeda tidaklah mudah. Oleh sebab itu, dalam kehidupan nyata jadilah dirimu sendiri, jangan ingin menjadi orang lain.

    Reply
  5. Fransiska says:

    Keren kak! Aktingnya bagus sekali, bisa menghayati peran dengan baik.

    Reply
  6. Stevanus Adrien Sanjaya says:

    Dunia ini panggung sandiwara
    Ceritanya mudah berubah
    Kisah Mahabrata
    Atau tragedi dari Yunani
    Setiap kita dapat satu peranan
    Yang harus kita mainkan
    Ada peran wajar
    Dan ada peran berpura-pura
    Mengapa kita bersandiwara?
    Mengapa kita bersandiwara? Hu-u
    Peran yang kocak bikin kita terbahak-bahak
    Peran bercinta bikin orang mabuk kepayang
    Dunia ini penuh peranan
    Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan
    Mengapa kita bersandiwara?
    Mengapa kita bersandiwara?
    Peran yang kocak bikin kita terbahak-bahak
    Peran bercinta bikin orang mabuk kepayang
    Dunia ini penuh peranan
    Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan
    Mengapa kita bersandiwara?
    Mengapa kita bersandiwara?
    Mengapa kita bersandiwara?
    Mengapa kita bersandiwara?
    Mengapa kita bersandiwara?
    Mengapa kita bersandiwara?
    (Mengapa kita) Mengapa kita bersandiwara?
    Mengapa kita bersandiwara?

    Good job!!! Explore yourself!! Do the best!!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *