Uprak Ada Faedahnya Nggak, sih?

Ditulis oleh Catarina Amabella

Tak terasa, seluruh rangkaian Ujian Praktik kami telah usai. Rasa lega, lelah, dan penasaran akan nilai mulai campur aduk di pikiran saya. Sungguh, Ujian Praktik ini bagi saya adalah sebuah simulasi yang memaksa saya untuk berproses. Mau tidak mau, saya harus belajar bekerja sama dengan tim. Saya juga belajar banyak hal mengenai bagaimana ‘menjual’ ide saya agar disepakati teman sekelompok, bagaimana kami harus saling mengevaluasi hasil pekerjaan satu sama lain (meski kadang terlewat cerewet hihi), bagaimana kami harus saling peduli satu sama lain (misalnya ketika satu anggota sedang sakit lalu butuh istirahat lebih, anggota lainnya harus mengalah dengan bekerja lebih keras), dan lain sebagainya.

“Aduh, bisa nggak, ya?”

Jujur, sama seperti yang telah dikatakan oleh rekan saya, Caroline Paska, pada artikel ini, saya pun awalnya pesimis. Terutama terkait drama KesAgIng (Kesenian, Agama, Inggris). Bagaimana bisa kami menghasilkan sebuah karya drama yang bagus apabila dalam proses pembuatannya, para pemainnya tidak pernah bertemu langsung? Bahkan, artis-artis FTV yang sudah sering bertemu di tempat syuting saja terkadang acting-nya masih terkesan setting-an. Namun, setelah melihat hasil akhirnya, tampaknya pesimisme saya di awal tidak terbukti. Menurut saya, semua anggota kelompok telah menyumbangkan usaha terbaiknya dalam drama berjudul A Silent Elegy itu.

Lalu, apakah produk Uprak yang kami buat hanya KesAgIng saja? Tentu tidak. Kami pun diminta untuk membuat sebuah video, yang mana dalam video tersebut kami mesti berdialog menggunakan Bahasa Mandarin kemudian melakukan gerakan senam. Yup, Sinluiers sering kali menyebutnya dengan project MandOR (singkatan Mandarin dan Olahraga). Apabila Anda penasaran, klik di sini yuk! Siapa tahu jadi pengin ikutan senam juga, kan, hitung-hitung meningkatkan imun tubuh, hehe.

Mengasah Value Lewat Uprak

Dalam proses mengerjakan Uprak MandOR ini, saya rasa ada satu value yang terasah dalam diri saya, yaitu can-do attitude. Bagi Anda yang masih asing dengan istilah yang satu ini, tenang, saya akan memberikan artinya untuk Anda.

If you say that someone has a can-do attitude, you approve of them because they are confident and willing to deal with problems or new tasks, rather than complaining or giving up.

collinsdictionary.com

Intinya, can-do attitude adalah sikap di mana seseorang bersedia menghadapi tugas baru, bahkan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Memangnya, tugas baru apa sih yang mesti saya hadapi? Hal ini berawal ketika muncul ide untuk semacam ‘membagi tugas’ dalam kelompok kami. Misalnya, si A, B, dan C fokus mengerjakan script drama Kesaging, lalu si D, E, dan F fokus membuat gerakan, dan seterusnya. Saya berpikir begini, “Hmm.. Kalau saya memilih fokus di script, sepertinya tidak akan selesai-selesai, karena saya orangnya lambat kalau disuruh ngide.” Maka, jadilah saya fokus membuat gerakan untuk project MandOR ini.

Membiasakan yang Tidak Biasa

Rasanya sudah lama sekali saya tidak berkutat dengan video-video dance tutorial di YouTube. Playlist lagu-lagu upbeat apalagi! Maklum, semenjak di Sinlui, saya lebih banyak mendengar lagu-lagu mellow, lo-fi, atau mungkin malah choral (apalagi kalau mendekati lomba paduan suara hehe). Badan saya pun sudah tidak selincah dan selentur dulu saat SMP. Tapi, ya saya coba saja. “If there’s a will, there’s a way” kalau kata orang-orang. Sayangnya, menjalaninya tidak seenteng mengucapkannya. Saya mengalihkan jam tidur siang saya untuk melakukan Zoom meeting dengan teman-teman yang juga fokus membuat gerakan. Apabila mereka berhalangan, saya pun biasanya meluangkan waktu sekitar sepuluh menit untuk memikirkan gerakan selanjutnya, atau kalau otak saya sedang ‘buntu’, saya sekadar melatih kembali gerakan yang sudah dibuat sebelumnya.

Setelah melewati 1001 kebuntuan dan perdebatan (“ah, lebai sekali Anda, bel!”), akhirnya kami berhasil menciptakan koreografi berdurasi 4 menit. Mungkin beberapa dari Anda bertanya-tanya, “Eh, lalu bagaimana hasilnya? Sesuai ekspektasi tidak?”. Nah, bisa dibilang ini juga merupakan satu pelajaran lain yang saya dapatkan. Seringkali, bukan orang lain yang mengecewakan kita, melainkan ekspektasi kita sendiri.

Akhir Kata

Sebenarnya, masih ada lagi hal-hal berharga yang saya dapatkan dari Uprak ini, yang juga ingin saya bagikan untuk Anda melalui tulisan-tulisan serupa. Namun, sebelum artikel ini menjadi terlalu panjang (percayalah, Anda telah membaca 600-an kata saat ini), saya cukupkan sampai sini tulisan saya. Untuk rekan-rekan saya, terima kasih karena kalian secara tidak langsung telah menjadi ‘guru’ dan ‘mentor’ bagi saya. Semoga melalui Uprak ini teman-teman juga mendapatkan pelajaran berharga yang sama banyaknya—atau bahkan lebih banyak—daripada saya.

Berikut secuplik dari apa yang saya kerjakan dalam Uprak Kesaging maupun MandOR.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *